Langsung ke konten utama

Museum Perkebunan Indonesia, Menghubungkan Masa Lalu dan Masa Depan

Museum ? Saya suka sekali dengan museum. Kali ini kunjungan kami sekeluarga adalah ke Museum Perkebunan Indonesia. Pada liburan panjang akhir pekan April kemarin, saya gak ada rencana khusus sebetulnya untuk pergi kesana. Pengennya cuman jalan keliling kota setelah dari Taman Bunga Tjong Yong Hian. Karena hanya sebentar saja di Taman Bunga Tjong Yong Hian, saya pun menawarkan anak-anak ke museum. Dan seperti biasanya mereka selalu tertarik ke museum


Museum yang terletak di jalan Brigjen Katamso no 53 ini masih terhitung belia. Diresmikan pada tanggal 10 Desember 2016 lalu.  Museum Perkebunan Indonesia dengan tagline nya menghubungkan masa lalu dan masa depan ini adalah museum khusus perkebunan pertama di Indonesia. Keren kan ?

Aura menarik sudah saya rasakan saat memasuki halaman yang merupakan bagian dari Kantor Pusat Penelitian Kelapa Sawit ( KPPS ) ini. Meski dari luar pagar nampaknya tidak menarik, tapi begitu masuk ke halamannya ... semua pandangan itu akan berubah. Saat menginjakkan kaki tepat di halaman museum, saya langsung terpesona dengan jalannya. Tampak hitam legam, bukan dari aspal melainkan dari  cangkang kelapa sawit yang sudah dibakar. Cantik sekali

Cangkang kelapa sawit yang sudah dibakar dimanfaatkan untuk permukaan jalan

Gedung berarsitektur Eropa dengan cat putih terlihat sangat cantik menyambut kami. Dengan membayar 5 ribu untuk tiket anak  dan 8 ribu untuk dewasa. Untuk turis asing 25 ribu. Parkir kendaraan 5 ribu rupiah untuk mobil. Cukup terjangkau kan. Buka mulai jam 09.00 hingga jam 16.00. Khusus hari Senin dan hari libur nasional, museum ini tutup

Museum ini awalnya adalah rumah direktur APA ini sudah disulap menjadi lebih modern. APA adalah singkatan dari  Algemeene Proefstation der AVROS ( Algemeene Vereeniging van Rubberplanters ter Oostkust van Sumatera ). Yaitu sebuah lembaga penelitian perkebunan pertama di Sumatera. Di tahun 1957 Pemerintah Indonesia mengambil alih gedung APA dan berganti nama menjadi RISPA ( Research Institute of Sumatera Planters Association ).  Dan mulai 26 September 1992 menjadi Pusat Penelitian Kelapa Sawit ( PPKS )

Pintu depan museum
Ruang tentang sejarah perkebunan Indonesia

Ruang pertama adalah ruang sejarah tentang perkebunan di Indonesia. Disitu terdapat tulisan bagaimana awalnya penjajah Portugis masuk ke Indonesia untuk mengambil rempah-rempah hingga perkembangan perkebunan di Indonesia hingga saat ini. Terdapat juga  foto lama gedung museum ini

Dan yang menarik perhatian saya salah satunya adalah dipamerkannya sebuah sistem pendataan manual canggih tanpa komputer untuk mendata para pekerja perkebunan pada masa pendudukan Belanda

Sistem pendataan pekerja perkebunan tanpa komputer, yang pada masa itu digunakan untuk mendata pekerja yang didatangkan dari pulau Jawa, India serta Cina


Mulai deh isengnya, Kakak lagi serius ngedengerin Pak Faisal. Eh kok papanya iseng jadi pemandu museum ... wkwkwk

O iya, sebaiknya masuk museum ini memakai pemandu wisata ya supaya bisa mendapatkan banyak pengetahuan dan ilmu baru. Dan tentunya perjalanan di museum jadi lebih menyenangkan

Masuk ke ruangan selanjutnya dipamerkan tentang perkebunan kelapa sawit, teh, tebu, kopi , lada, kakao, karet dan tembakau. Pak Faisal, sang pemandu museum menjelaskan tentang manfaat kelapa sawit. Dan disitu saya baru tahu bahwa kelapa sawit juga dijuluki sebagai tanaman seribu manfaat. Nyaris semua bagiannya bisa dipakai

Cangkangnya dibakar lalu bisa digunakan sebagai bahan bakar industri dengan harga 800 rupiah per kg. Buahnya sendiri untuk minyak ( dengan berbagai turunannya dan khusus untuk kualitas terbaik merupakan komoditi ekspor bukan untuk pasar dalam negeri , disitulah saya merasa sedih ). Lidinya sendiri juga diekspor dan kayunya bisa digunakan sebagai kerajinan

Olahan dari kelapa sawit, minyak goreng di pasaran bukan salah satu diantara itu ya. Bahkan gak ada dipamerkan di museum ini

Bersama Pak Faisal mendengarkan tentang tembakau di Indonesia

Selain kelapa sawit, penjelasan Pak Faisal tentang perkebunan tembakau sangat menarik perhatian saya. Tembakau terbaik di dunia dihasilkan di tanah Deli ini. Ya tembakau dari tanah Deli ini adalah yang terbaik di dunia

Bukti dari kejayaan tembakau Deli di masa lalu adalah istana Maimun dan juga beberapa fasilitas serta bangunan lain yang ada di Medan ini. Seperti Gedung London Sumatera, Hotel De Boer atau yang sekarang lebih dikenal dengan Hotel Inna Dharma Deli, Kantor Pos Pusat , Lapangan Merdeka, Rumah Sakit Tembakau Deli, gedung-gedung di seputaran Kesawan dan juga perkereta apian di Sumatera Utara ini. Dan masih banyak lagi bukti sejarah tentang kejayaan tembakau Deli masa itu

Tapi sayang dari 29 perkebunan tembakau Deli peninggalan Belanda dan sekarang yang masih beroperasi hanya di Klumpang / Klambir, Kabupaten Deli Serdang. Berkurangnya lahan perkebunan ini lebih disebabkan oleh penyerobotan oleh masyarakat. Tembakau Deli hanya diperuntukkan untuk komoditi ekspor saja dan digunakan untuk bahan cerutu milik pabrikan cerutu terbaik dunia

Patung seorang pekerja sedang menyortir kualitas tembakau. Ada 30 jenis warna berbeda. Kayu berwarna-warni itu untuk menentukan ukuran daun


Cerutu yang menggunakan tembakau Deli
Kelapa sawit sudah, tembakau juga sudah. Di sudut lain juga dipamerkan kopi, kakao, lada, teh, lada, tebu dan juga karet. Ada terpampang foto Oey Tiong Ham, sang Raja Gula Asia dari Semarang. Dan juga terdapat alat-alat untuk mengambil getah karet. Menariknya sebuah batang karet dipasang di ujung ruangan beserta alatnya dan bisa digunakan untuk foto 3 D seolah-olah kita sedang mengambil getah karet  

Di sudut kanan, bisa digunakan untuk foto 3D
Biji karet dan peralatan untuk mengambil getah
Oey Tiong Ham , Raja Gula Asia dari Semarang

Di lantai 1 ini juga terdapat ruangan buat penyuka foto bergaya. Sebuah ruangan foto 3 D disediakan secara khusus. Hanya saja kita dikenai biaya lagi sebesar 10 ribu rupiah per orang untuk masuk kedalamnya di luar tiket masuk. Di dalamnya terdapat 4 spot foto yang masih bertema perkebunan. Dan tak lupa juga ada kantin yang menyediakan minuman serta souvenir. Ada mug lucu dari plastik seharga 50 ribu , kalung kecil dan juga kaos seharga 95 ribu rupiah

Ruang foto 3 D, biaya 10 ribu per orang
Kantin ada di bawah anak tangga
 
Setelah puas di lantai 1, kami pun naik ke lantai 2. Tak hanya anak tangganya saja yang terbuat dari kayu, lantainya pun juga masih terbuat dari kayu. Ada perlengkapan yang digunakan untuk perkebunan dipamerkan disitu. Mulai dari alat jemur, troli angkut, miniatur rumah fermentasi tembakau, alat timbang hingga radio yang digunakan untuk para pekerja sebagai hiburan mereka

Keranjang untuk mengumpulkan tembakau
Kakak yang penasaran sama radio
Bungkus untuk tembakau  yang akan diekspor
Berbagai timbangan

Saya kira tur museum sudah selesai, rupanya Pak Faisal mengajak kami untuk keluar gedung. Disana diperlihatkan berbagai tanaman perkebunan yang masih kecil

Yang paling menarik di luar museum ini adalah lokomotif serta pesawat kecil yang sengaja ditaruh di halaman museum. Dan itulah yang paling sering menjadi objek foto warga dengan hanya membayar uang parkir saja tanpa harus membayar uang masuk museum. Pokoknya kalau pas lewat depan museum ini selalu  aja ada yang sedang berfoto disitu ... hehehe

Tanaman yang masih berukuran kecil ditanam di halaman museum

 
Pesawat yang didatangkan dari Amerika pada tahun 1958 ini digunakan untuk menyemprotkan pestisida pada tanaman tembakau Deli. Dikarenakan alasan teknis dan reguler lingkungan hidup, pengoperasiannya dihentikan pada tahun 2007


Montik atau kepala kereta api ini buatan Jerman dengan merk Schoma. Digunakan untuk mengangkut kelapa sawit . Pengoperasiaannya dimulai dari 1982 hingga 2015
Lokomotif merk Durco & Brauns dari Belanda. Dibuat tahun 1940. dan diopersikan terakhir pada 1996 oleh PTPN IV


Sungguh liburan edukatif yang menarik buat saya sekeluarga. Gimana pendapat kawan-kawan tentang museum ini ? Menarik bukan. Pak Faisal pun menyampaikan pesan kepada saya untuk mengajak kawan- kawan semua berkunjung ke Museum Perkebunan Indonesia ini. Ayo ajak anak, saudara atau kawan berkunjung ke Museum Perkebunan Indonesia



Komentar

  1. Museumnya apik mbak. Kalo semua museum di indonesia kayak gini bakal betah berlama-lama di museum..heehe

    BalasHapus
  2. Salam kenal ibu Dila,

    Museumnya bagus. Anak-anak bisa belajar perkebunan Indonesia. Oh, ya, ada souvenirnya, bisa buat oleh-oleh setelah menjelajah museum.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengurus Pindah Sekolah Anak ke Luar Kota ( Berdasarkan Pengalaman Pribadi )

Pindah lalu tinggal dan hidup di beberapa kota bukan lagi hal baru buat saya dan keluarga. Hari ini saya akan berbagi tips bagaimana memilih sekolah baru buat anak di luar kota dan prosedur saat anak harus pindah sekolah mengikuti tugas orangtua
Dulu ketika anak masih belum memasuki usia sekolah, saat harus mengikuti tugas suami prioritas utama adalah mencari rumah. Begitu rumah yang diharapkan sudah didapatkan, beres. Barang tinggal diangkut. Nah ketika anak sudah memasuki usia sekolah,  artinya urusan sekolah juga harus masuk prioritas saat akan pindah 





Saat memilih sekolah yang baru untuk anak, ini yang harus diperhatikan : 
1. Tidak terlalu jauh dengan rumah ( terutama buat anak TK atau SD )  
Berhadapan dengan lingkungan baru adalah adaptasi buat anak. Saat memilih sekolah yang letaknya masih terjangkau dari rumah, itu akan memudahkan anak dalam mengenali lingkungan barunya. Anak akan lebih cepat menghafal dimana rumah serta rute jalan yang dilaluinya dari rumah ke sekolah
2. Mu…

Keindahan Kolonial Belanda di Puri Tri Adiguna PTPN 2 Tanjung Morawa

Hai, jumpa lagi dengan saya di postingan ini. Kali ini saya mau berbagi cerita dengan kawan-kawan tentang sebuah tempat menarik yang berada di Tanjung Morawa, Deli Serdang - Sumatera Utara

Di pertengahan Agustus lalu saat hendak pulang dari bandara,  tingkat penasaran saya muncul lagi ketika melewati pagar pembatas samping Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa. Berkali - kali lewat disana, penasaran memang tetapi kali itu rasa penasaran saya jadi lebih. Kendaraan yang dikendarai suami saat itu pelan sekali, terlihat saat itu beberapa bangunan era kolonial Belanda. Wow bagus sekali, saya pikir saat itu. Sempat saya katakan ke suami, suatu saat saya akan kesana



Angin segar kemudian saya dapatkan dari Kak Eka, kawan di sekolah anak saya, saat dia mengatakan bahwa rumahnya di komplek PTP.  Saya pikir ya yang saya lihat itu. Rupanya rumah Kak Eka berada di dekat tanah lapang, sebelah Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa. Dari Kak Eka itulah saya tahu nama tempat yang saya maksud adalah Puri Tri Adiguna PTP…

" Mama, aku nggak mau sekolah lagi " ... Ketika anakku dibully

Teringat kejadian sore itu saat kami masih di Tangerang Selatan, sepulang sekolah Kakak menangis luar biasa di meja belajarnya. Di tepi jendela saat matahari sore masuk ke kamarnya. "Mama, aku nggak mau sekolah lagi" sambil menangis tersedu-sedu. Jedeeeer ... seperti mendengar petir di siang bolong, anak lelaki kelas 4 SD ini tiba-tiba meminta sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.



" Kenapa Kakak gak mau sekolah? " itu pertanyaan pertamaku. "Aku gak betah lagi" masih sambil menangis tersedu-sedu Kakak menjawab.  "Kenapa gak betah? " tanyaku lagi. " Aku ditendang kawanku. Kepalaku ditendang, terus dipukul pake tasnya" katanya. " Kakak udah ngehindar belum? " kutanya Kakak.  " Udah tapi mereka masih ngejar aku, Ma" masih sambil menangis

" Kakak bales gak? " tanyaku kembali. " Nggak,  Ma " jawab Kakak. " Bagus " jawabku. " Tapi aku tetep gak mau sekolah, kawanku jahat " sambil s…